Jumat, 28 Desember 2012

EFISIENSI UNIT-UNIT KEGIATAN EKONOMI INDUSTRI GULA YANG MENGGUNAKAN PROSES KARBONATASI DI INDONESIA

Review 3 Hasil dan Pembahasan Kesimpulan
Efisiensi Unit-Unit Kegiatan Ekonomi Industri Gula
Yang Menggunakan Proses Karbonatasi Di Indonesia

Hasil dan Pembahasan
Analisis DEA terhadap Efisiensi UKE Indusri Gula yang Menggunakan proses
karbonatasi

Penggunaan Input dan Perolehan Output
Perbandingan secara kasar tingkat efisiensi antar pabrik gula yang menggunakan proses karbonatasi dapat dilihat dari rasio antara biaya yang dikeluarkan dengan penerimaan yang diperoleh. Semakin kecil rasio biaya dengan penerimaan mengindikasikan bahwa proses produksi berjalan semakin efisien dan berlaku sebaliknya. Hal ini diakibatkan oleh hubungan adanya hubungan positif antara penerimaan dengan keuntungan dan hubungan negatif antar biaya dengan keuntungan. Sehingga semakin tinggi tingkat penerimaan dengan biaya semakin kecil akan berdampak pada peningkatan perolehan keuntungan perusahaan.

Rasio Biaya dengan Penerimaan
Rasio biaya dengan penerimaan untuk seluruh pabrik gula dapat dilihat pada Tabel 2.
Dari 5 pabrik gula yang menggunakan proses karbonatasi terlihat bahwa 2 pabrik gula
yang memiliki tingkat rasio paling rendah adalah Sweet Indo Lampung dan Indo Lampung
Perkasa. Kedua pabrik gula tersebut diduga memiliki tingkat efisiensi paling tinggi.
Sedangkan 3 pabrik gula yang memiliki tingkat rasio paling tinggi adalah Tasik Madu,
Gondang Baru dan Rejoagung Baru. Ketiga pabrik gula tersebut diduga memiliki tingkat
efisiensi paling rendah.

Skor Efisiensi Tahun 2002
Dari Tabel 3, terlihat terdapat 2 pabrik gula yang paling efisien dan sisanya memiliki
tingkat skor efisiensi dibawah 100. Dua pabrik yang memiliki tingkat skor efisiensi paling
tinggi (100) yaitu P4 (Sweet Indo Lampung) dan P5 (Indo Lampung Perkasa).

Tabel 2.
Rasio Biaya dengan Penerimaan

Tabel 3.
Skor efisiensi pabrik gula yang menggunakan proses karbonatasi tahun 2002

Sedangkan 3 pabrik gula yang menggunakan proses karbonatasi yang memiliki skor efisiensi paling rendah yaitu P1 (Tasik Madu), P2 (Gondang Baru), dan P3 (Rejoagung Baru).

Sebab Ketidakefisienan dan Cara Mengatasinya
Pabrik-pabrik gula dengan proses karbonatasi yang tingkat efisiensinya masih relatif rendah dapat diperbaiki dengan mengacu pada pabrik-pabrik yang relatif lebih efisien. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4.
Skor efisiensi, pabrik acuan, dan multiplier
Dari Tabel 4 terlihat untuk pabrik P1, yang menjadi pabrik acuan yaitu P4 dan P5 untuk meningkatkan skor efisiensinya. Untuk pabrik P2, yang menjadi pabrik acuan yaitu P4 dan P5sedangkan pabrik P3 yang menjadi pabrik acuan adalah P5Untuk dapat meningkatkan efisiensi pabrik-pabrik tersebut dapat memperhatikan contoh berikut:
Contoh:

Perhitungan peningkatan efisiensi untuk P1 tahun 2002 dengan pabrik acuan P4 dan P5.
INPUT : 0.203 input P4 + 0.059 input P5
OUTPUT : 0.203 output P4 + 0.059 output P5

Dengan cara yang sama juga dapat diterapkan pada pabrik-pabrik lainnya. Tabel 5 menyajikan tingkat efisiensi yang sudah dicapai pabrik gula P1. Pada tabel tersebut memuat target, aktual penggunaan input dan peroleh output.
Tabel 5
Target, aktual, efisiensi yang sudah dicapai pabrik PI tahun 2002


Dari Tabel 5 terlihat semua penggunaan input melebihi target, misal untuk jumlah tebu giling melebihi target sebesar 18.50%, biaya pengadaan tebu giling melebihi target sebesar 45.90% dan seterusnya. Output yang sudah sesuai target yaitu gula baik dari sisi jumlah maupun penerimaan, sedangkan tetes menunjukkan jumlah tetes kurang dari target sebesar 3.60% dan penerimaan tetes kurang dari target 0.60%.

KESIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, penelitian ini dapat menyimpulkan sebagai
berikut:
  1. Terdapat dua pabrik gula yang menggunakan proses karbo-natasi yang memiliki tingkat skor efisiensi paling tinggi yaitu Sweet Indo Lampung dan Indo Lampung Perkasa.
  2. Pabrik-pabrik gula yang efisiensi relatifnya masih rendah dapat ditingkatkan efisiensinya melalui multiplier input dari pabrik acuannya.
  3. Pabrik-pabrik gula yang skor efisiensinya rendah, memiliki alokasi penggunaan seluruh input yang belum optimal.

Saran
  1. Realokasi penggunaan input untuk pabrik-pabrik gula yang belum efisien agar segera dilakukan.
  2. Institusi yang terkait dengan pengelolaan industri gula segera menindaklanjuti upaya peningkatan efisiensi pabrik-pabrik gula di Indonesia, khususnya pabrik-pabrik gula yang menggunakan proses karbonatasi.




Sumber: isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/4304233239.pdf

YUNITA HILDA N (27211679)/2EB09
FAKULTAS EKONOMI
2011-2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar